Musibah terbesar ummat manusia adalah kematian, maka selayaknyalah kita terus mengingat dan mempersiapkan diri akan kedatangannya. Ia seharusnya kita jadikan sebagai alarm dan penasehat kita dalam menjalani kehidupan dunia yang hanya sementara ini sebagaimana pesan sebuah hadits "Cukuplah kematian itu sebagai nasehat." (HR. Thabrani dan Baihaqi).
Ketika ia menghampiri maka apapun yang pernah kita miliki dan banggakan akan musnah seketika. Istri, anak, keluarga, pangkat, jabatan, harta, dan tentunya nyawa yang mengisi jasad ini akan terlepas kembali ke pemilik-Nya. Kita akan pulang menuju ke alam kubur menantikan kehidupan berikutnya yaitu akhirat dan meninggalkan dunia ini untuk selamanya.
Melupakan kematian akan menyebabkan kita kehilangan nasehat yang akan mengingatkan kita akan tindak-tanduk kita berkehidupan. Kita akan mudah tergoda dan terperosok dalam kesenangan dunia yang melalaikan. Kita akan terlena mengejar kenikmatan dunia, bermegah-megahan, asik-asikan, dan akhirnya lupa untuk mempersiapkan bekal kehidupan akhirat sampai ajal menjemput kita, sehingga nantinya kita pasti akan menyesalinya.
Kematian juga merupakan guru yang baik. Ia memberikan pelajaran, makna hidup, dan menjadi pengawas kehidupan kita agar senantiasa berjalan pada jalur semestinya. Banyak pelajaran yang terkandung dalam peristiwa kematian seperti nilai-nilai berkehidupan, berinteraksi, dan menekan kesombongan dalam diri kita.
Dengan adanya kematian, kita akan menyadari bahwa kita bukanlah siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa. Ketika tiba waktunya, seorang manusia tidak akan mampu mengelak dan menolak meskipun dia memiliki kekuatan yang super, jabatan tertinggi, ataupun pangkat berbintang. Begitupun dengan harta yang telah kita kumpulkan seumur hidup kita dengan susah payah, tidak ada secuilpun yang akan kita bawa selain selembar kafan.
Tidak ada sesuatu yang menyebabkan kita akan menghargai betapa pentingnya waktu selain kematian. Tiada seorangpun yang mampu memprediksi kapan datangnya malaikat yang akan mencabut nyawa kita. Kita tidak pernah tahu berapa lama lagikah jatah waktu kita untuk hidup atau kapankah dunia ini akan berakhir. Sehingga kematian akan menyebabkan kita mewanti-wanti diri kita akan datangnya. "Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitu kematian!" (HR. Tirmidzi).
"Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (dari padanya)." (QS. Al-Anbiya:1). Ayat tersebut memperingatkan kita agar tidak melalaikan nilai waktu karena dengan melalaikan waktu tersebut berarti kita sedang mengarahkan diri kita pada jurang kebinasaan. Dengan ayat tersebut selakyaknya kita akan memanfaatkan setiap detik waktu dengan ibadah dan dzikrullah.
[Disadur dari Buletin Dakwah An-Nur Forsitaca]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar